Beberapa waktu lalu saat artikel di blog ini saya share ke Facebook, beberapa teman sepertinya memperhatikan adanya nama yang relatif tidak familiar dipakai dalam bio author di sini. Memang ini sengaja saya pilih karena memiliki satu latar belakang tersendiri.

Kedua nama yang saya gabung itu memiliki iikatan yang jauh dengan saya, dengan masa kecil saya dan sekilas kebersamaan saya dengan saudara dari tanah jauh, Palestine.

John

Ini adalah nama yang saya lebih akrab diipanggil di lingkunggan rumah, tempat saya dibesarkan dengan kasih sayang kedua orangtua. Saya sendiri tidak tahu bagaimana awalnya bisa mendapat panggilan begini, mungkin dari akhiran nama saya yang mengalami transnformasi. Yono - Jono - Jon (John).

Sampai saat ini pun keponakan-keponakan saya lebih tahu saya dengan nama itu daripada nama saya yang full sesuai dengan certificate. Pernah teman saya main ke rumah, dia menyebut saya dengan nama penuh ini justru mereka kebingungan karena nggak tahu siap yang dimaksud, hahaha.

Ali

Adalah satu nama yang disematkan kepada saya oleh Syaikh yang menjadi imam selama bulan Ramadhan kemarin di Masjid Raya Al Falah. It possibly means nothing, hanya untuk mempermudah beliau untuk memanggil saya, karena memang kami sering bersama dalam berbagai kesempatan.

Dalam sebulan beliau berada di tengah kami, ada hampir selusin masjid lain yang kami kunjungi untuk roadshow dakwah dan penggalangan dana untuk Palestine. Intensitas kami untuk bersama dalam satu mobil, untuk bercakap-cakap lumayan banyak, karena beliau belum bisa berbahasa Indonesia, hanya Arab dan Inggris yang bisa kami gunakan untuk komunikasi. Dan nampaknya memang nama saya relatif susah untuk beliau ingat dan pakai dalam percakapan.

So ketika beliau bilang, 'Ali, yeah I will use Ali after today to call you', I gladly accpt that. Sebuahh panggilan dari saudara kita yang begitu jauh di sana, yang bertahan dalam jihad mempertahankan bumi Palestina yang menjadi hak dari umat Islam. Bisa jadi berarti pula anak kecil dan atau justru keluarga, siapa yang tak mau dianggap keluarga, begitu dekat bukan?

Jadi dengan nama itu saya bisa terbantu mengingat betapa perjuangan saudara kita di sana penuh derita dan ujian yang berat. Betapa kita harus bersyukur dan selalu mendoakan dan mensupport mereka semampu kita.