Kemarin saya kembali menjadi pemula karena saking lamanya tidak bongkar pasang yang namanya CPU, dan ini adalah catatan saya.

Dulu saya sih memang tidak pernah belajar di jurusan komputer waktu sekolah, jadi semua pengalaman yang dulu di dapat ya dari belajar sendiri saja. Nah saking lamanya tidak memerlukan keterampilan ini, sepertinya menjadikan setiap pengetahuan yang pernah saya dapatkan mulai menghilang.

Alhasil kemarin seperti detour, saat saya hendak mengkawin silangkan 2 perangkat komputer saya yang sama-sama mulai menjadi dysfunctional ke dalam satu PC yang perangkatnya baru semua, jadi semacam pengasahan kembali seluk beluk oprek komputer.

Awalnya saya hanya memiliki laptop saja, sekitar setahun yang lalu laptop itu tiba-tiba tidak bisa nyala sama sekali, saya sudah pesimis dia bisa berjalan. Solusi saat itu adalah saya membeli komputer built up second dari rekan, alhamdulillah lancar dan saya upgrade hingga RAM sudah 12 GB.

Namun malang beberapa bulan yang lalu komputer ini hangus, analisa saya waktu itu PSU mati. Untungnya pada saat itu laptop saya kembali nyala, tapi saya juga tidak bisa fully rely on her, makanya saya ganti saja HDD bawaannya dengan SSD agar loading lebih enteng. Dan memang selama beberapa bulan lancar saja, terlebih saya menginstall Linux Mint di sana, kemudian saya ganti pakai Enso OS, jadi makin ringan saja jalannya dia.

Hingga kemudian, beberapa pekan terakhir laptop saya mulai tidak stabil, sering mati karena kepanasan, apalagi main workroom sekarang memang tidak bisa dibilang nyaman dan sejuk, terlebih kalau siang hari.

Jadi lebih VenomRX

Saat melakukan upgrade RAM jadi 12 GB tadi, saya beli 2 keping memory baru merek VenomRX, awalnya merek ini terdengar asing, harganya yang relatif murah adalah pertimbangan saat itu. Belakangan saat saya mau membeli komputer untuk kantor kedua saya, saya jadi tahu bahwa ini adalah merek yang lumayan oke, terutama bagi gamers.

 Install Motherboard VenomRX (Review dan pengalaman memakai VenomRX)

VenomRX banyak menyediakan produk komputer, tidak hanya RAM saja, tapi yang lebih menggoda adalah lini produk casing mereka yang murah tapi fiturnya keren. Mereka juga menjual beberapa model motherboard. Bisa coba deh dilihat beberapa produknya di sini.

Untuk mengatasi masalah laptop yang tidak bisa diajak kerja serius, adanya komponen komputer lama yang mati tadi yang jadi tidak terpakai kemarin saya putuskan untuk rebuild jadi sosok komputer baru. Saya belikan casing dan motherboard VenomRX terbaru, untuk HDD dan CPU bisa dipakai dari PC tadi.

Oh iya, ternyata komputer lama tadi mati karena motherboard, bukan karena PSU seperti asumsi saya. Sebelumnya saya sudah membeli sebuah power supply Digital Alliance, dayanya 400 Watt saja karena mengingat pemakaian listrik biar lebih hemat. Tapi ternyata daya itu masih belum cukup untuk mentenagai motherboard ini, terbukti dengan ketika saya mencoba memakai sebuah PSU dengan daya 450 watt rakitan terbaru ini bisa nyala.

Masalahnya adalah, PSU yang baru ini adalah PSU kelas bawah yang harganya sekitar 100.000 saja, dengan harga seperti itu maka panjang kabel power dan peripheral yang ada kurang panjang karena casing saya beli cenderung untuk PSU model gamers, yang biasanya ada management kabel, tidak langsung main tarik dan colok.  

Saya terpaksa membeli satu power supply lagi, kali ini adalah merek Imperion, yang lebih terjangkau di harga 300 ribuan dengan daya sampai 600 watt.

Motherboard Short

Kalau bisa dibilang, ini adalah sebuah upaya membangkitkan ulang komputer yang begitu dramatis. Karena saya merasa ada saja yang terlewat dan menjadikan prosesnya jadi terhambat, mulai dari kesalahan pemasangan cooling fan CPU baru saya ketahui setelah melihat halaman situsnya. Kesalahan berikutnya adalah terjadinya short di motherboard VenomRX ini, yang menjadikannya tidak mau nyala saat sudah dipasang di casing.

Pernah saya tanyakan ke teman yang lebih terbiasa dengan hal ihwal merakit komputer, dia langsung nyinyir mendengar merek Motherboard VenomRX ini, dia pernah mengalami masalah yang konyol dan mengesalkan dengan merek ini. Sarannnya adalah mencoba untuk mereset CMOS, hal yang sederhana namun karena lupa atau tidak paham betul menjadikan saya harus mengakui kebodohan dengan googling dan mencari tutorial dulu.

Alhamdulillah setelah direset bisa, saya coba jalankan tanpa dipasang dulu di casing semua berjalan lancar. Hingga kemudian semua berbalik 180 derajat manakala saya coba pasang di casing lagi, dan tetap tidak mau menyala lagi walau sudah saya reset lagi.

Yah, saya harus mencari alternatif dengan menggunakan motherboard lain. Dari masalah ini saya jadi kepo tentang banyak model dan seri motherboard, kenapa ada H81, H87, Z97 atau h97. Dan sedikit banyak jadi tahu juga, ternyata seri-seri di belakang merek inilah yang menjadikan satu model lebih mahal daripada yang lainnya. Beda seri tersebut adalah untuk peruntukan yang berbeda pula, dengan keunggulan yang lebih antara H81 vs H87, juga Z97 atau H97.

Saya jadi penasaran untuk membeli motherboard lain yang punya seri h87 paling tidak, karena motherboard ini memiliki slot RAM berjumlah 4, saya ingin agar komputernya nanti powerful, dan tidak ada sekeping RAM yang nganggur.

Tapi oleh rekan saya saya disarankan membeli/pinjam motherboard h81  dulu dari dia, karena model prosesor saya dengan socket LGA 1150 katanya cocoknya untuk seri itu. Padahal saya masih ragu dan yakin kalau dia bisa handle lebih banyak RAM, dan bahkan tidak sama dengan spesifikasi di Intel sendiri, setidaknya saya pernah menggunakan 3 keping RAM, dan motherboard bawaan di PC built up tadi memang ada 4 slot.

Kembali up

Singkat kata, daripada kepanjangan saya sampaikan ke bagian akhir ya.

Singkatnya saya ambil mother H81 merek Gigabyte, dan saya coba lancar. Berbekal pengalaman pahit sebelumnya kali ini saya install motherboard baru ini (yang lebih mahal dan lebih old teknologinya, tidak support HDMI, tidak ada soket USB 3.0 untuk panel depan) dengan lebih hati-hati, saya pasangkan karet pelindung meski memasangnya sebisanya.

Dan alhamdulillah lancar. Hanya ada kendala satu setelah terpasang, yaitu fan CPU yang terlalu mentok fan casing, jadi fan caing tidak bisa berputar. Setelah melepas motherboaard, kemudian memutar arah hembusan angin CPU fan ke belakang (menghadap fan casing) semua berjalan lancar.

Di hardware terbaru ini maka yang menggunakan VenomRX akhirnya tinggal RAM dan juga casing. Sedangkan untuk OS, saya akhirnya settle menggunakan Zorin OS, yang sangat mengejutkan design UI yang ditampilkan bisa dibilang ciamik. Saya juga menemukan bahwa GIMP di sini tidak mengalami masalah font rendering, entah karena dia menggunakan Gnome, berbeda dengan Mint yang memakai Cinnamon atau Enso OS yang memakai LXDE.

Anda harus mencoba Zorin.